Motivation Letter
Perkenalkan nama saya Devli Ananda Putra, anak laki laki berusia 18 tahun. Saya adalah anak ketiga dari ketiga bersaudara. Saya memiliki satu kakak perempuan dan satu kakak laki laki. Saya berasal dari keluarga yang cukup mampu. Saya kira jarang sekali keluarga saya memiliki masalah ekonomi yang cukup merepotkan. Namun hal tersebut tidak akan dapat terjadi tanpa kerja keras kedua orang tuaku. Sebelum saya lahir maupun saat saya masih sangat kecil, keluarga saya bisa dibilang hanya memili ekonomi yang pas pasan. Namun nasib tersebut akhirnya bisa dipatahkan oleh semangat berusaha kedua orang tuaku.
Sejujurnya saya tidak merasa jika diri saya mempunyai bakat tertentu, bahkan saya awalnya tidak mempunyai nilai plus dalam bidang akademik sekalipun. Meskipun begitu, orang tua saya tetap mendukung saya. Mereka tetap mengatakan kepada saya jika saya merupakan anak yang pintar atau cerdas. Selain kurang percaya dalam kemampuan akademik, saya juga merasa sedikit sulit untuk bergaul, mungkin hal tersebut dikarenakan saat kecil teman teman atau anak anak seumuran saya yang laki laki jumlahnya sangat sedikit.
Kekurangan kekurangan saya dalam akademik maupun dalam bergaul tersebut akhirnya membuat saya berfikir mungkin sayalah yang harus mengubah diri saya, atau mungkin saya harus lebih mengenali diri saya dulu sebelum mengenal orang lain.
Pada tahun 2007 saya masuk di TK PGRI 01 Wajak, di mana untuk pertama kali saya dididik bukan oleh orang tua saya. Dua tahun kemudian saya masuk di Sekolah Dasar Negeri 01 Codo. Bisa dibilang saya merupakan salah satu siswa dengan nilai terbaik. Selama 6 tahun belajar di sekolah dasar tersebut saya selalu berada di posisi 5 besar dengan nilai terbaik. Saya pernah mewakili SDN Codo 1 dalam lomba Bahasa inggris meskipun saya sendiri tidak yakin dengan pengetahuan Bahasa inggris saya.
Saya memasuki masa sekolah menengah pertama di SMPN 1 Turen. Bisa dibilang saya kurang berprestasi saat awal awal kelas 7. Saya mendapatkan posisi ke-27 dari 34 anak sekelas. Namun seiring berjalannya waktu saya ingin merubah diri saya sendiri. Seiring berjalannya waktu peringkat saya terus naik dan pada akhirnya saya mungkin meraih nilai terbaik UN dalam sekelas saya meskipun tidak begitu tinggi.
Tahun 2017 saya memasuki masa SMA, dimana saya merasakan masa masa suka maupun duka. Saya masuk SMA di kelas MIPA 1. Disana saya menemukan teman teman yang saya anggap berharga, kami sering menghabiskan waktu Bersama entah itu untuk tugas maupun sekedar kumpul. Namun setelah satu setengah tahun, tanpa memberitahukan pengumuman apapun pihak sekolah langsung memecah kelas kami karena MIPA 1 aslinya diperuntukkan untuk siswa siswa yang mengikuti program akselerasi. Pada saat itulah saya maupun teman teman saya merasa sangat kehilangan. Setiap malamnya saya terus berfikir ataupun mengingat indahnya masa masa kita Bersama dulu. Bisa dibilang pada saat itu saya untuk pertama kali mengalami yang namanya mental breakdown.
Namun tidak lama setelah itu saya teringat oleh kata kata yang berbunyi “Everything will come to an end”. Saya sadar bahwa yang pernah indah tak akan selamanya menjadi indah, yang awalnya Bersama tidak akan terus Bersama, Nasib kita adalah kita sendiri yang menentukan bukan orang lain, tidak baik jika terus merenung dan menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Dari momen tersebut saya bangkit, secara perlahan lahan saya memperbaiki akademik maupun non akademik saya, dan pada puncaknya saya sempat terpilih menjadi duta favorit di sekolah saya.
Semakin kesini kita harus mengerti jika nasib kita tidak sepenuhnya bergantung pada orang lain melainkan bergantung pada diri sendiri. Oleh karena itu khawatirkanlah dirimu sendiri sebelum menghawatirkan orang lain.
Comments
Post a Comment